Bisnis Sebelum Pensiun

Share This Post

Share on facebook
Share on linkedin
Share on twitter
Share on email

Sekarang mulai marak program persiapan pensiun yang dilakukan oleh berbagai perusahaan besar yang sudah cukup lama berdiri. Karena sudah lama berdiri, tentu angkatan kerjanya sudah ada yang senior dan akan menjelang pensiun.

Kalau perusahaannya besar, tentu jumlah angkatan kerja yang senior akan lebih banyak lagi, dan lebih banyak orang yang sedang bersiap pensiun.

Pertanyaannya: apa yang dipersiapkan oleh perusahaan untuk karyawan yang akan pensiun?

Mungkin ada beberapa yang mempertanyakan: apakah ini tanggung jawab perusahaan? Bukankah perusahaan hanya bertanggung jawab membayar gaji tepat waktu, dan pada saat karyawannya pensiun, cukup diberi pesangon sesuai dengan rumus yang telah ditetapkan oleh pemerintah?

Memang tidak salah. Namun banyak perusahaan yang berusaha memberi lebih, yaitu mengantisipasi adanya masalah setelah para karyawan tersebut pensiun. Setidaknya jangan sampai jadi berita, bahwa ada karyawan mereka yang sudah pensiun dan sekarang hidupnya susah, karena itu akan menjadi nama buruk bagi perusahaan di masyarakat.

Jangan sampai pula karyawan tersebut setelah mengabdikan hidupnya di perusahaan, lalu setelah pensiun uangnya habis, lalu karena ada kebutuhan mendesak seperti karena masalah kesehatannya, kemudian kembali ke perusahaan tempatnya bekerja dulu dan berusaha meminjam uang, dengan dalih bahwa dia telah mengabdikan hidupnya bagi perusahaan, dan meminta perusahaan sekarang bertanggung jawab untuk memperhatikan hidupnya setelah pensiun. Repot dong…

Kejadian yang tidak diinginkan tersebut akan terlihat oleh karyawan lain yang sedang aktif bekerja dan akan menjadi referensi bagi mereka. Bila mereka melihat bahwa senior mereka setelah pensiun hidupnya susah, maka mereka akan menilai bahwa bekerja di perusahaan tersebut tidak ada masa depannya, karena setelah tenaga mereka habis, hidupnya akan susah seperti apa yang sudah mereka lihat, dan ini akan menurunkan semangat motivasi kerja mereka. Pada akhirnya, perusahaan dirugikan karena mendapatkan hasil kerja yang tidak optimal.

Empty meeting room with big long table

Jadi perusahaan kemudian mendatangkan berbagai konsultan untuk menyediakan pelatihan bagi karyawan tersebut, mulai dari mempersiapkan mental dan spiritual untuk memasuki masa pensiun agar tidak mengalami post-power syndrome, melatih mereka mengelola keuangan agar uang pensiunnya tidak cepat habis, dan melatih mereka membuka usaha agar ada kesinambungan pendapatan bagi mereka. Dengan kata lain, mereka diajari membuka bisnis setelah pensiun kelak.

Nah, kalau pada akhirnya nanti adalah membuka usaha, mengapa tidak dimulai dari sekarang? Saat terburuk untuk memulai bisnis adalah saat tidak memiliki modal uang dan saat usia sudah mengurangi tenaga serta saat pikiran sudah ketinggalan jaman.

Tiga kombinasi faktor yang ditakuti oleh para pengusaha bisa dialami oleh para pensiunan, dan pada saat itu perusahaan baru menyediakan pelatihan memulai usaha? Setidaknya ada 2 faktor lain, yaitu tenaga yang sudah menurun dan pikiran yang sudah ketinggalan jaman, akan menimpa para pensiunan ini. Lebih parah lagi bila uang pensiun mereka pun habis atau tidak mencukupi untuk memulai usaha.

Apa yang bisa dilakukan oleh perusahaan hanya sebatas itu saja, sebatas itikad baik yang pada akhirnya sebenarnya adalah usaha untuk melindungi nama baik mereka sendiri.

Tanggung jawab terbesar tetap saja ada pada diri masing-masing karyawan, baik yang sudah menjelang pensiun maupun yang masih dalam usia produktif.

Bila memulai bisnis bisa dimulai kapan saja, mengapa harus menunggu saat sudah pensiun baru mau memulai bisnis? Mengapa tidak dimulai dari sekarang saja, saat gaji masih diterima secara teratur, tenaga masih cukup kuat untuk bekerja lebih dari 1 shift, dan pikiran masih aktif dan diharapkan belum ketinggalan jaman?

Bisnis apa yang hendak dimulai? Tentu ini kembali ke pribadi masing-masing, mulai bisnis yang harus mencari ide terlebih dahulu, maupun bisnis yang berasal dari ide orang lain, seperti franchise maupun berbagai peluang lain yang bisa dilakukan.

Sebuah ide baik untuk bisnis adalah bisnis yang setidaknya masih terkait dengan bisnis perusahaan, yang sekiranya masih bisa berjualan ke relasi perusahaan, namun tidak menyerobot bisnis perusahaan.

Ada beberapa karyawan yang bekerja hanya untuk mencari tahu data supplier perusahaan dan data pelanggan perusahaan, kemudian membuka usaha sendiri di bidang yang sama untuk kemudian memanfaatkan supplier perusahaan tersebut untuk mendapatkan barang yang akan dijual ke pelanggan perusahaan.

Berarti mantan bosnya dirugikan oleh seorang mantan karyawan yang menyerobot bisnis perusahaan. Ini adalah tindakan yang tidak terpuji, dan juga tidak hebat.

Lebih baik bila karyawan tersebut mampu membeli hasil produksi perusahaan untuk kemudian dijual lagi ke pasar yang berbeda tanpa menyentuh pelanggan perusahaan.

Karyawan ini justru meningkatkan omzet perusahaan melalui bisnisnya. Mungkin tidak lama lagi karyawan ini akan mengajukan pensiun dini untuk secepatnya menjadi pengusaha.

Karyawan yang hendak menjadi supplier bagi perusahaan tempatnya bekerja masih akan menghadapi masalah etika. Apakah ini etis? Apakah ini tidak seperti perusahaan dalam perusahaan? Saya menilai, etis bila dia mampu menjadi supplier yang memberi produk secara adil, karena memberi produk dengan penawaran terbaik, baik karena harga, kualitas maupun kesinambungan suplai.

Cheerful roastery owner in glasses showing thumbs-up

Namun bila karyawan ini hanya menjadi supplier yang sama dengan yang lain, kemudian mempengaruhi bagian pembelian untuk membeli produknya, maka ini seperti menyerobot bisnis orang lain yang sebelumnya sudah secara teratur menjual suplai ke perusahaan.

Ada piring makanan orang lain yang diganggu, dan ini tidak etis, juga tidak baik. Bila bisa memberikan penawaran terbaik, maka ini adalah bersaing secara adil, kalau menang juga wajar. Seharusnya sebagai karyawan akan mengetahui kebutuhan perusahaan secara lebih spesifik dan bisa melakukan customize terhadap produk yang akan disuplai ke perusahaan, dan ini adalah keunggulan yang wajar, bisa diterima.

Intinya, kalau hendak memulai bisnis selagi menjadi karyawan, mulailah bisnis tersebut secara beretika, jangan merugikan supplier, jangan merugikan pelanggan, dan terutama jangan merugikan bos.

Berbisnis yang bila bos mengetahui semuanya, tidak marah karena tidak dirugikan. Kalau perlu malah senang, karena omzetnya meningkat atau keuntungannya meningkat.

Daripada memulai bisnis saat 3 kekuatan sudah berkurang, sebaiknya mulai saja sekarang selagi masih lebih kuat.

Subscribe To Our Newsletter

Get updates and learn from the best

More To Explore

Uncategorized

Tetap Produktif Saat #dirumahaja

In time of crisis jaman now, dan juga saat #dirumahaja, walau dengan berbagai keterbasan, kita tetap dapat produktif. Bagaimana caranya?

Do You Want To Boost Your Business?

drop us a line and keep in touch

Top