Bisnis Di Tengah Corona

Share This Post

Share on facebook
Share on linkedin
Share on twitter
Share on email

Tidak terasa sudah beberapa bulan sejak wabah corona bermula dan saat ini sudah menjangkiti lebih dari 100 negara. Tidak tanggung-tanggung, sampai orang-orang penting pun ada yang sudah terinfeksi virus ini. Apa pengaruhnya bagi bisnis?

Tiba-tiba saja ada pebisnis dadakan yang berjualan masker. Harga selangit, tetap laku keras. Selain masker, tiba-tiba gel antiseptic dan hand sanitizer juga laku keras dengan harga berlipat.

Hebatnya lagi, masker itu banyak yang tidak dipakai. Hanya berpindah dari satu tangan ke tangan lain, diiringi peningkatan harga. Ini sudah terjadi sebelum virus corona masuk Indonesia.

Sejak pemerintah Indonesia resmi mengumumkan ada pasien corona di Indonesia, jumlah pasien bertambah dalam waktu singkat dan sudah ada pasien yang meninggal akibat virus corona. Ini menambah ketakutan warga di Indonesia pada khususnya.

Wabah corona sudah menimbulkan berbagai dampak yang sangat fatal secara politik dan ekonomi, dan mungkin banyak warga dunia yang belum pernah melihat hal seperti ini sebelumnya. Intinya, semua aktivitas yang menyebabkan kerumunan dalam jumlah besar dihentikan, di mana pun di dunia ini, termasuk di Indonesia.

Arab Saudi terpaksa menghentikan haji dan umroh. Resikonya terlalu besar bila banyak orang yang sulit dijamin kesehatannya bercampur-baur dalam kerumunan, penyebaran virus akan makin tak terkendali.

Balap Formula 1 untuk pertama kalinya dalam sejarah mengalami pembatalan dan penundaan event. Dari yang seharusnya dimulai di bulan Maret mundur ke Mei, dan itu pun masih belum pasti.

Tim McLaren harus mundur dari lomba karena seorang anggota kru terinfeksi Corona, dan akhirnya seluruh tim panik dan event dibatalkan. Demikian pula dengan MotoGP dan olah raga lainnya. Padahal ini juga bisnis besar yang mau tidak mau harus dibatalkan atau ditunda demi tujuan yang lebih besar.

Bali menjadi sepi, yang disebut lebih sepi dibandingkan saat terjadi Bom Bali 1 maupun 2. Seorang teman menunjukkan foto Bandara Ngurah Rai yang ruang tunggunya sepi kosong melompong. Pantai juga sepi tidak ada orang. Bisnis pariwisata hancur.

Import juga terpengaruh. Container tidak bisa masuk, tidak boleh dibuka karena virus corona juga bisa ikut masuk dalam container, padahal virus corona tidak masuk dalam dokumen PIB (Pemberitahuan Impor Barang), berarti illegal sehingga dihentikan oleh Bea Cukai.

Padahal barang impor sangat mendominasi perdagangan di Indonesia. Ini artinya banyak pedagang tidak punya barang untuk diperjualbelikan. Lalu mau berdagang apa?

Bisnis transportasi masal termasuk penerbangan juga terpengaruh. Orang jadi takut berada dalam kerumunan, apalagi di ruang tertutup selama beberapa jam.

Bisa dibayangkan di dalam pesawat kalau ada salah satu orang terkena corona, tentu saja setelah mendarat nanti, seluruh kru dan penumpang di pesawat sudah terpapar virus corona dan secara prosedur, mereka semua harus diisolasi selama 14 hari.

Tanpa transportasi masal, jumlah kunjungan antar kota menurun drastis, akan mempengaruhi tingkat okupansi hotel, dan mengurangi omzet bisnis kuliner. Tempat wisata bahkan tutup.

Dengan banyak bisnis yang sedang rugi, maka investor pun angkat kaki. Index BEI pun turun, para investor kali ini sebaiknya tidak menambah investasi terlebih dahulu, mereka memindahkan investasikan ke hal-hal yang sifatnya aman saja.

Menteri Keuangan bahkan memberikan insentif pembebasan PPh yang lebih besar. Negara menyiapkan stimulus ekonomi agar perekonomian tidak jatuh akibat ketakutan masyarakat akan virus corona.

Saat ini bisnis kesehatan yang booming, mulai dari usaha untuk meningkatkan kesehatan agar tidak terjangkit penyakit corona sampai asuransi yang memberikan perlindungan finansial atas kejadian penyakit corona, sampai vitamin dan berbagai alat seperti masker dan sanitizer yang harganya makin melonjak.

Apa yang harus dilakukan oleh pengusaha di tengah ketakutan masyarakat seperti ini? Tentu saja tetap tenang, lebih berhati-hati dalam menjaga kesehatan, karena kesehatan adalah hal yang terpenting.

Kesehatan adalah harta termahal yang bisa dimiliki oleh manusia. Penurunan omzet adalah hal yang biasa dalam bisnis, termasuk bila tingkat penurunannya tidak biasa dengan penyebab yang juga tidak biasa.

Ini saatnya para pengusaha diperkenalkan dengan disrupsi terbaru, yaitu ketidaksehatan.

Subscribe To Our Newsletter

Get updates and learn from the best

More To Explore

Uncategorized

Tetap Produktif Saat #dirumahaja

In time of crisis jaman now, dan juga saat #dirumahaja, walau dengan berbagai keterbasan, kita tetap dapat produktif. Bagaimana caranya?

Do You Want To Boost Your Business?

drop us a line and keep in touch

Top